Story Blog Tour 1: Putar arah

Kak bener sangkaan gw. Itu Ditya, koordinator rohis SMA gw dulu. Tadi ada dia dirumahnya Jasmine

–send

And sorry i can’t give your message to her this time. It just not in time

–send

Ganen mulai memacu mobilnya sesaat setelah mengirim pesan singkat itu ke kakaknya, Arsa. Jazz hitam itu melaju kencang memecah keheningan malam ibu kota. Di radio, Brian Mcknight Jr. melantunkan lagu Marry Your Daughter, seakan mendukung menciptakan suasana sendu rasa bersalahnya terhadap kakaknya.

“I can’t wait to smile as she walks down the isle, on the arm of her father

on the day that I marry your daughter”

Pilu, rasanya usaha untuk membantu kakak semata wayangnya itu nampaknya akan kandas. Senyum sumringah arsa dengan satu stel Tuxedo yang selalu ia bayangkan setiap mengirim surat ke Jasmine kini perlahan rasanya mulai buram.

Beep beep!! Sesaat, dering suara telfon genggamnya berdering membuyarkan lamunannya.          -Ditya SMA 1, calling- suaranya kini semakin keras bersahutan dengan lagu dari radio. „Bro, kayaknya kita perlu ngobrol nih“ secepat kilat ganen memutar arah mobilnya.

***

              Di kamar, Arsa melemparkan badannya ke kasur sehabis membaca pesan singkat dari ganen. Arsa menatap langit langit kamarnya sambil melipat tangannya dibawah kepala. menikmati nyamannya suasana kamar yang tidak ia dapat di negri rantau, menenangkan pikiran, sekaligus melarikan diri sejenak dari rumit hubungannya dengan jasmine.

Decit suara kipas angin yang entah sudah berapa tahun bergantung gagah di langit langit kamar arsa mulai terdengar nyaring menghitung putaran baling balingnya. Memutar memori memori arsa dua  puluh tahun silam, ketika arsa kecil berteriak kegirangan saat pertama kali kipas angin ini berputar setelah susah payah ia pasang bersama almarhum ayahnya. Sosok yang ia teladani. Teringat kata kata yang ayahnya sampaikan „Beruntunglah nak menjadi insan yang beriman, apabila mendapat cobaan maka ia bersabar, apabila mendapat kenikmatan maka ia bersyukur. Kipas angin ini adalah bukti syukur hasil jerih payahmu bersabar menyisihkan sebagian uang jajanmu“.

Iman, Sabar, Syukur. Tiga kata itu entah mengapa kini terus berulang dikepala arsa. Benar, tiga kata itu yang kini jarang arsa resapi, apalagi sejak hiruk pikuknya menyesuaikan diri di Jerman, sibuk dengan segala persiapan untuk kuliahnya ditambah hubungan dengan jasmine yang terombang ambing tak jelas arahnya. Ia lupa bahwa atas segala nikmat yang hingga kini ia dapati, atas segala rintangan yang saat ini ia hadapi, ada Mata yang selalu mengawasi dan Tangan yang siap memberi.

Arsa lompat dari tempat tidurnya, membasuh muka letihnya dengan air wudhu dan menggaet sarung dan sajadah diatas kursi belajarnya.

***

„Jadi ternyata abang lo gan yang dulu pernah deket sama jasmine?“ tembak ditya bersamaan dengan suara seruput kopi panasnya.

„hhmm iya dit.. gw ga nyangka ternyata lo ditya ditya yang abang gw sering sebut“ bohong, tak siap ganen menjawab pukulan frontal temannya itu. Beruntung, suaranya tertelan suara ramai seliweran motor dan arang yang beradu dengan besi panggang.

„kyk yang tadi bokapnya jasmine bilang, jadi babeh gw sama bokap dia itu mitra bisnis gan“ ditya mengulang kalimat yang sebenarnya masih hangat di ingatan ganen.

„ooh gitu“ ganen menjawab sekenanya sambil melahap roti bakar.

„babeh gw meratiin jasmine pas doi lagi umroh sama keluarganya jasmine. Trus babeh langsung whatsapp gw pas gw lagi di Kairo. Di ceritain semuanya tuh sama babeh si jasmine yg blm pernah gw kenal ini, dari mulai cantiknya, sopan santunnya sama orang tua, sampe sampe dikirimin fotonya. Masih fresh backgroundnya ka’bah“  Ditya mulai mengeluarkan sisa sisa logat betawi nya.

„hhmm hoo“ balas ganen, yang mulai tidak selera makan mendengar temannya bercerita.

„dan emang gw akui masya Allah aslinya gan pas ketemu. Itu bidadari bidadari surga juga pada iri kali ya“ canda ditya mencoba mencairkan suasana. Namun bagi ganen justru sebaliknya.

„ha ha“ tawa formalitas ganen yang kini tangannya sudah tidak memegang garpu rotinya, melainkan mengepal dibawah meja. Siap melayangkan tinju nya jika ditya masih membangga-banggakan ceritanya

„tapi ada yang aneh gw perhatiin raut muka jasmine setelah beberapa kali ketemu ini, apalagi tadi“ ditya kini menatap ganen memberi sinyal untuk obrolan yang serius.

„eh?“ otot ganen mengendur sembari melempar tanya.

„senyum jasmine. Senyum jasmine manis, tapi keliatannya bukan buat gw“.

***

Entah setelah sekian lama sajadah itu tidak pernah basah oleh air mata arsa. Begitu juga hatinya yang kering lupa dibasuh oleh dzikir dan doa. Hatinya bergetar hebat, tangisnya membuncah tak terbendung. Tunduknya memohon ampun atas lupa dan khilaf kepada yang maha berbesar hati. Luapan emosinya terasa berderu, bagai ombak ombak yang datang bertubi tubi. Dera penantiannya, luka hatinya, Semua ia tumpahkan didalam sujudnya kepada yang memiliki jawaban dari setiap masalah. Khusyuknya ia meminta ampun dan harap.

***

              Hingga panas telefon genggamnya ia pegang erat erat. Rasa bahagianya yang amat sangat beradu dengan ragu karna tidak mau melanggar peraturan yang telah ia bikin sendiri. Namun ia harus segera menyampaikan pesannya, harus.

***

              [1/15, 11:12 PM] Jasmine: mas, Bapak ngundang orang tua mu kemari.

 

———–

CATATAN:
Ini adalah challenge menulis OWOP, temanya STORY BLOG TOUR . Di mana member lain yang sudah diberi urutan melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Saya Wanna mendapat giliran kesembilan. Biar ceritanya nyambung, kamu harus baca episode sebelumnya, ya.
Episode 1 : Surat Yang Tertahan di Dasar Hati – Nadhira Arini

Episode 2 : Rahasia Jasmine – Deby Theresia

Episode 3 : Dialog – Tutut Laraswati

Episode 4: Jodoh untuk Jasmine – Saidah Humaira

Episode 5: Ketika Rindu Memanggil – Doddy Rakhmat

Episode 6: Misi Arsa – Uni Lilis

Episode 7: Rumah Tujuan – Afatsa

Episode 8: Ganen – Fia

Episode 9: Putar arah – Wanna

Episode 10: Astika

silakan mampir ke blog Astika untuk tahu kelanjutan ceritanya. 

Stop Wishing, Start Writing

oneweekonepaper.com

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s