Tiba Tiba Diba

*KRIIIIING*

Dering telefon diatas meja kerjaku mengagetkan aku dan hampir menjatuhkan ballpoint yang sedari tadi aku putar putar agar terlihat seperti sedang berfikir. Bunyi nyaringnya yang nyaris seperti bel jadul sekolah semasa SMA dulu membuyarkan lamunanku. Ya, inilah hobi baruku beberapa pekan ini selain telat masuk kantor dan begadang tanpa juntrungan yang jelas, melamun.

Ini semua karena kejadian kejadian yang menimpaku sebulan ini dan terasa begitu cepat menaik-turunkan emosiku, semua karna revan, mantan suamiku. Ia datang dan pergi begitu cepat. Ia tetiba saja menceraikanku karna alasan yang sangat konyol. Baru  saja aku berhasil menstabilkan emosiku, ia datang lagi ke kehidupanku secara tidak sengaja dan berhasil merobohkan benteng perasaan yang sudah letih aku bangun. Lalu, ia sekarang menghilang lagi sudah beberapa minggu tak ada kabar. Aku masuk lagi ke lubang yang sama. Aku terjatuh, dan tak bisa bangkit lagi. Aku tenggelam dalam lautan luka dalam, eh kok jadi nyanyi..

*KRIIIIING*

Ini… ini dia telefon yang berhari-hari aku tunggu. Kabar dari revan. Tapi, kenapa harus lewat telefon kantor? Kenapa tidak dari handphone saja? Memang, tempo hari ketika ia mampir ke kantor, aku sempat memberikan nomer telefon kantorku berikut nomer ekstensi yang langsung sambung ke telefon di meja bilik kerjaku ini. Entahlah, mungkin ia ingin memberikan kejutan kecil seperti terakhir kali ia menelfonku. Aku segera memperbaiki posisi dudukku, berdehem beberapa kali menyeimbangkan pita suaraku agar tidak terdengar sumbang pada nada pertama. Aku menoleh sekejap ke cermin kecil di sudut mejaku, memperbaiki posisi poni agar tidak bolong ditengah, menaik turunkan sunggingan senyum di bibirku agar telihat natural tidak berlebihan. Oiya, ditelefon kan dia tidak liat muka ku ya..

“holla! Meskipun aku pemalu tapi aku tetap fashionable, dengan audiba disini ada yang bisa saya bantu?” Sapa ku berusaha ceria namun tetap tenang seolah tak terkejut.

„BAAAAAHH, apa pulak kau ini angkat telefon saja sambil berkaca?” suara ini malah membuatku terkejut sesak napas. Aku kenal suara ini. Bukan, bukan suara revan. Revan tidak ada darah batak.

“i.. iya bang, ada apa bang?”  jawabku dengan sisa napas tersengal seperti kuda bunting. Sambil bersungut sungut melempar ujung mataku ke ruangan yang dilapisi kaca bening persis ditengah tengah kantor ini. Di dalamnya ada bang togar, pimpinan redaksi kantor ini, di atas singgasananya sedang memegang telefon dengan tangan kiri dan menunjuk lurus ke mejaku dengan tangan kanan disertai tatapan mata yang siap melahap. Habislah aku.

“Kau, ke ruangan aku sekarang!”  Ini adalah kali kedua aku dipanggil ke ruangan bang togar dalam kurun waktu seminggu ini. Sebelumnya, karena kartu absensiku minggu ini hampir merah semua karna terlambat. Kali ini, kemungkinan serupa. And under the record, aku sudah hafal khutbah apa yang akan bang togar sampaikan dikolam ikannya itu.

“Kau tau kan diba, aku lelah-lelah mendirikan perusahan media massa ini untuk membuktikan bahwa pres itu masih memiliki kekuatan idealisme. Bukan hanya media pesanan!”  Benar kan, dengan penekanan di semua huruf vokal E, bang togar selalu memulai khutbahnya dengan bahasan idealisme dan cibirannya tentang media pers lain, meski ia selalu terselip menyebutnya pres.

“Jika tulisanmu tak punya karakter dan soul macam ini, bagaimana aku mau mempertahankan eksistensi idealisme perusahaan ini?!” Hanya ada 2 orang batak yang aku kenal selama ini dalam hidupku, bang togar dan abang abang supir angkot jurusan pasar minggu-lebak bulus yang sering lewat depan rumahku. Keduanya hampir mirip, badannya sama sama besar, kulitnya sama sama hitam legam, dan potongan rambutnya sama sama cepak. Mungkin hanya rejeki yang membedakan kedua manusia gigih itu. Meski kadang, ketika bang togar sedang berkhutbah panjang seperti ini, aku sering senyum senyum membayangkan jika keduanya bertukar peran.

“Kau, aku dan wartawan lainnya adalah sebuah tim. Tim yang memiliki visi yang sama, visi yang harus terus kau junjung dan kau gambarkan dalam setiap artikel yang kau tulis. Bayangkan dalam sebuah kapal, aku nahkoda yang memimpin kapal, kau dan wartawan yang lain adalah awak kapal, dan kita sepakat untuk menuju pulau yang sama.“ Yang ada di kepala ku kini adalah bang togar sedang menyetir angkot dengan handuk butek dibahunya, dan aku berdiri bergantung di bibir pintu penumpang sebagai kenek. Kita sama sama mengarungi ruas jalan jakarta selatan didalam satu angkot menuju pasar minggu. Aku senyum senyum kegelian sendiri membayangkannya. Hahaha…

Tunggu, tetiba semua khutbah bang togar kembali terputar di otak ku. Tentang idealisme, karakter dan soul, kinerja sebuah tim, kekuatan visi, nahkoda dan awak, hingga angkot dengan jurusan yang sama, sontak bergantian berulang ulang terngiang di pikiranku. Raut mukaku langsung berubah menjadi serius seperti berfikir keras. Bang togar yang sedari tadi asyik berkhutbah seketika langsung berhenti ketika melihat perubahan ekspresi wajahku. Aku segera berlari menuju pintu ruangan bang togar tanpa memperdulikan kebingungan di wajahnya, sambil menitip salam „makasih pak supir!“.

Hallo, Tulisan ini adalah bagian dari Story Blog Tour kedua dari OWOP satu. saya wanna dan ini merupakan episode ke 9, nah episode episode berikutnya ada di blog temen temen owop yang lain. Stay tuned!

  1. Ketika Adiba Kembali – Tutut Laraswati
  2. Penarik Kerah Baju – Rifdah
  3. Revan Rivantyo – Rias
  4. Aku Masih Mencintaimu – Helmi Yani
  5. Merasakanmu Lewat Secangkir Cappucino – Apriliah Rahma
  6. Penyakit sialan! – Dara
  7. Perbuatan angin malam – Fauzan
  8. Slide Masa Lalu  – Uni Lilis
  9. Tiba Tiba Diba- Wanna
  10.  Selanjutnya di blog Dhira
Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s